Science dan Agama

Standard

Di sains, saya menemukan arti sebenarnya sebagai manusia. Sang pemimpi, pemikir, penjelajah, pemberani, dan pendobrak tradisi, serta pencari kebahagiaan. Walaupun saya salah, namun saya tetap berharga dengan segala ketidaksempurnaan saya. Saya ingin mengetahui bagaimana dunia ini bekerja, dan sains memberi jalan.

Di agama, saya selalu di elu-elukan hanya sebagai hamba/budak, tidak boleh panjang angan-angan, tidak boleh bertanya macam-macam, harus mengikuti pendapat ulama/ahli tafsir tanpa di bolehkan berpendapat sendiri, selalu di takut-takuti dengan azab, selalu dibuat merasa bersalah ketika mencintai oranglain sebelum menikah, dianggap tidak berharga tanpa Tuhan, tidak sempurna di mata Tuhan dan sepanjang hidup harus merasa hina dan terus menerus minta ampunan ketika melakukan kesalahan kecil. Bahkan dari awal sudah ditakut-takuti dengan kematian dan disuruh menjadi orang asing dibumi.

Rasa takut, rasa bersalah, merasa hina, merasa tidak sempurna, merasa tidak berharga, merasa tidak pintar, merasa rendah diri, dan merasa tidak pantas mendapatkan surga, serta hal-hal yang secara psikologi sangat menghambat perkembangan manusia untuk menjadi bahagia justru di agung-agungkan oleh agama.

— RI —

Leave a Reply