Lubang Hitam dan Alam Semesta Kita

Standard

Jika Bintang yang memiliki Massa 20 kali lipat dari Matahari meledak (mati), maka lapisan luar akan terlontar ke ruang angkasa. Sedangkan inti nya akan semakin memadat akibat gravitasi.

Gaya gravitasi ini sangat dahsyat hingga memisahkan atom menjadi elektron, neutron dan proton. Lalu menjadi quark, lepton, dan gluon.

Terus memadat dan mengecil, hingga..
Menjadi Lubang Hitam.

Apa pun yang berada dalam cengkraman gravitasi Lubang Hitam tidak akan bisa lolos. Meskipun dengan kecepatan cahaya (hampir 300 KM / detik).

Di galaksi Bima Sakti terdapat Lubang Hitam dengan berat 4,3 juta kali dari Matahari. Berjarak 26.000 Tahun caya dari Bumi, dan bernama “Sagitarius A*” (Sgr A*).

Galaksi tetangga (Andromeda) memiliki lubang hitam yang beratnya mencapai 100 juta matahari. Dan bahkan di suatu galaksi di alam semesta ini ada yang mencapai 10 Miliar dari berat matahari.

Sagitarius A*

Sgr A* berada di tengah-tengah Galaksi Bima Sakti

Yang menarik, apa yang ada di dalam Lubang hitam tersebut?
Fisikawan menyebutnya Singularitas.
Singularitas berukuran sangat kecil, lebih kecil dari apapun di bumi, hingga walaupun diperbesar trilyunan kali oleh mikroskop terkuat di bumi pun tidak akan bisa melihatnya.

Tapi ada sesuatu disitu, sangat kecil tapi sangat berat.
Dan kita tidak akan pernah bisa mengetahui nya. Karena mustahil bisa melihat ke dalam Lubang Hitam.

Beberapa fisikawan mulai menerima teori tentang “Multiverse”. Bahwa alam semesta yang kita tinggali ini bukan merupakan satu-satunya.
Terdapat alam semesta lain yang terpisah dalam gelembung masing-masing.
Yang masing-masing lahir dari materi inti dari alam semesta lain.

Kita tahu, alam semesta kita ini lahir sekitar 13 Miliar tahun yang lalu. Dimulai dari ledakan maha dahsyat, hingga mengembang menjadi alam semesta yang sekarang (dan terus mengembang).

Big Bang

Dari mana asal ledakan tersebut? sebuah materi inti (titik) yang sangat kecil dan padat.
Sebuah Singularitas!

Bagaikan sebuah pohon, biji nya terjatuh ke tanah, kemudian bertunas, hingga tumbuh besar. Lalu proses tersebut berlanjut, seterusnya

note:
Disadur dari National Geographic:
http://nationalgeographic.co.id/feature/2014/03/kebenaran-soal-lubang-hitam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *